Rekans,
Berkah teknologi menjadi jembatan.
Program THR buat guru dipelosok mendapat respon yang luar biasa. Ada yang langsung transfer dan ada juga yang langsung sms. Menginformasikan bahwa ia sedang mengumpulkan dana buat mendukung program ini.
Alhamdulillah...ternyata memang jarak tidak menjadi penghalang untuk meraih berkah dengan menyisihkan sebagian harta kita. Membuat saudara-saudara kita tersenyum....
Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kita semua......
Senin, 14 September 2009
Bingkisan THR buat Guru Pelosok
Bingkisan THR buat Guru Pelosok
Bro and sis,
Agar lebaran ini para guru bisa tersenyum, kami merencanakan THR Guru Pelosok. Mereka hanya dapat honor Rp. 1.100/jam. Itupun dibayar bila dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) turun. Per 3 bulan sekali. Terakhir turun Bulan Juni 2009. Karena itulah, kami berusaha mengikhtiarkan upaya untuk memberikan THR bagi guru di pelosok.
Tanggal/hari pemberian : Jum'at, 18 September 2009 jam 20.00-22.00 usai Shalat Tarawih
Tempat : Pesantren Attaqwa Tanjung Aer, Desa Pantai Hurip kec. Babelan
Peserta :
Guru Taman Kanak-kanak (TK):
1. Nurasiyah (35), TK
2. Khoiriyah (37), TK
3. Siti Rosyita (32), TK
Guru Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah
4. Hj. Khoiriyah Fatah (35)
5. Ike Maraantika (35)
6. siti Alfiyah (30)
7. Nur Halimah (25)
8. Qowiyatun (37)
9. Ahmad Sofari (27)
10. Hasanudin (38)
11. A. Jarkoni (21)
12. A. Munawir (22)
13. Nurhasan (34)
14. Maria Ulfah (21)
15. Udin Jahrudin (35)
16. A. Dasuki (38)
17. Lukmanul Hakim (32)
18. Zulfahmi (21)
19. Abdul ROJIK (TU)
20. Aminah (22)
21.Syarifudin (25)
Kami canangkan bingkisan lebaran itu berupa uang tunai yang dapat dimanfaatkan oleh para guru. Berkisar minimal Rp. 50.000 - Rp. 150.000,-
Angka pasti disesuaikan dengan yang bisa dikumpulkan.
Nah, bagi Anda yang hatinya terketuk untuk memberikan secercah senyum. Kirimkan infaq anda ke
1. Rek BCA no.6240.395949 a. komarudin
atau
2. rek. Mandiri kcp Sentra Niaga Kalimalang no 156-00-0015086-4
Bila telah mentransfer mohon sms ke 0818721014/021-92119365 = komar
atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih
Komarudin Ibnu Mikam
Koordinator Program
yayasanmandirisejahtera.com
Rabu, 09 September 2009
Berbagi, Bayar Hutang Masa Lalu
Berbagi, Bayar Hutang Masa Lalu
Lagi bandel-bandelnya, bapak saya menutup mata untuk selama-selamanya. Duh, dunia rasanya buram. Masa depan terlihat suram. Yang ada hanya temaram. Terbayang hal yang kelam. Sekolah yang akan terbenam. Kondisi ekonomi yang tenggelam. Pokoknya satu kata : MADESU alias masa depan suram.
Namun, semua ketakutan itu tidak terbukti. Keluarga kami terus berjalan. Ibu, saya memanggilnya Enya. Jualan nasi uduk. Saya biasanya bangun jam 2. bantuin goreng bakwan dan kue dadar. Saya ingat betul duduk di sebelah k
ompor kaleng. Dengan api yang kadang biru kadang merah. Menyendok adonan bakwa yang sudah disiapkan Enya. Selesai goreng bakwan. Kini goreng kue dadar. Tugas saya membuat kulit dadar. Caranya sederhana. Cukup siapkan pengorengan dengan minyak yang dioleskan saja. terus, adonan kulitdadar disebar merata. Sebelum matang betul, diangkat dan letakan di wadah lain.
Habis gitu, masukan isinya. Berupa campuran kelapa dan gula merah. Lalu lipat. Seperti membungkus kado. Lalu letakan terbalik. Jadilah kue dadar.
Setelah kematian Baba, begitulah kehidupan kami. Untunglah rumah kami besar. Sehingga dapat dibelah dua. Sebagian dibuat jadi kontrakan. Lumayan dapat enam pintu. Buat pemasukan bulanan. Ditambah pensiunan Bapak. Jadilah, kami berempat menjalani kehidupan.
Alhamdulillahnya....situasi sosial di kampung cukup "menguntungkan." Di sana masih banyak orang yang berbagi. Pak Jajang, ketua RT kami membiayai adik kami yang bungsu. Dan, yang tidak terlupakan adalah ketika adik-adik saya dipanggil ke panggung santunan anak yatim. Diberikan amplof. Dan, .....diusap kepalanya. Anehnya saya selalu tidak kuat bila melihat momen-momen ini. Bagaimana pun adik saya yang sudah smp, agak gimana gitu...maklumlah sudah abg. udah kenal cewek. Malu dong ah...
tapi
mau dikata apa, disitulah kesempatan ia dapat uang agak lebih banyak dari biasanya.
Sekali lagi berbagi menunjukan keajaibannya. Kami menyadari berbagi yang menjadi mekanisme sosial melalui zakat fitrah, sodaqah dan infaq membentuk pribadi yang hendak berbalas budi. setiap momen itu hadir, saya selalu bersumpah dalam hati. Suatu ketika saya akan membalas budi dengan menjadi penyantun anak-anak yatim dan dhuafa. Walau pun sebagian besar bukan dari kocek saya sendiri. tapi, lebih banyak dari teman-teman yang namanya ogah disebut. Alhamdulilah, banyak teman yang bersedia mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Dengan modal kepercayaan kepada saya pribadi. Tanpa menuntut untuk meminta pertanggungjawaban atau apa pun.
Mulai dari 200 ribu sebulan. Saya langsung kirim. Lalu meningkat dan meningkat. Hingga pada titik yang saya nilai saya pribadi tidak dapat menghandle-nya. Maka, saya pun bicara dengan Pak Sanusi Nasihun tentang ini. Kontan saja ia meyambut. Sudah diprofesional saja. Gunakan saja yayasan saya : Yayasan Mandiri Sejahtera. Lalu, rekrut satu orang untuk asisten.
Kini mudah-mudahan secara rutin akan ada laporan keuangannya di blog yayasanmandirisejahtera.blogspot.com. Sehingga ada transparansi dan akuntabilitasnya.
Bismillah, mohon doa restu mudah-mudahan saya bisa membayar hutang masa lalu dengan berbagi. Namun, saya tidak akan meminta anak-anak dhuafa dan yatim itu naek ke panggung dan diusap kepalanya.
Mohon doa...
[komarudin ibnu mikam]
Lagi bandel-bandelnya, bapak saya menutup mata untuk selama-selamanya. Duh, dunia rasanya buram. Masa depan terlihat suram. Yang ada hanya temaram. Terbayang hal yang kelam. Sekolah yang akan terbenam. Kondisi ekonomi yang tenggelam. Pokoknya satu kata : MADESU alias masa depan suram.
Namun, semua ketakutan itu tidak terbukti. Keluarga kami terus berjalan. Ibu, saya memanggilnya Enya. Jualan nasi uduk. Saya biasanya bangun jam 2. bantuin goreng bakwan dan kue dadar. Saya ingat betul duduk di sebelah k
Habis gitu, masukan isinya. Berupa campuran kelapa dan gula merah. Lalu lipat. Seperti membungkus kado. Lalu letakan terbalik. Jadilah kue dadar.
Setelah kematian Baba, begitulah kehidupan kami. Untunglah rumah kami besar. Sehingga dapat dibelah dua. Sebagian dibuat jadi kontrakan. Lumayan dapat enam pintu. Buat pemasukan bulanan. Ditambah pensiunan Bapak. Jadilah, kami berempat menjalani kehidupan.
Alhamdulillahnya....situasi sosial di kampung cukup "menguntungkan." Di sana masih banyak orang yang berbagi. Pak Jajang, ketua RT kami membiayai adik kami yang bungsu. Dan, yang tidak terlupakan adalah ketika adik-adik saya dipanggil ke panggung santunan anak yatim. Diberikan amplof. Dan, .....diusap kepalanya. Anehnya saya selalu tidak kuat bila melihat momen-momen ini. Bagaimana pun adik saya yang sudah smp, agak gimana gitu...maklumlah sudah abg. udah kenal cewek. Malu dong ah...
tapi
mau dikata apa, disitulah kesempatan ia dapat uang agak lebih banyak dari biasanya.Sekali lagi berbagi menunjukan keajaibannya. Kami menyadari berbagi yang menjadi mekanisme sosial melalui zakat fitrah, sodaqah dan infaq membentuk pribadi yang hendak berbalas budi. setiap momen itu hadir, saya selalu bersumpah dalam hati. Suatu ketika saya akan membalas budi dengan menjadi penyantun anak-anak yatim dan dhuafa. Walau pun sebagian besar bukan dari kocek saya sendiri. tapi, lebih banyak dari teman-teman yang namanya ogah disebut. Alhamdulilah, banyak teman yang bersedia mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Dengan modal kepercayaan kepada saya pribadi. Tanpa menuntut untuk meminta pertanggungjawaban atau apa pun.
Mulai dari 200 ribu sebulan. Saya langsung kirim. Lalu meningkat dan meningkat. Hingga pada titik yang saya nilai saya pribadi tidak dapat menghandle-nya. Maka, saya pun bicara dengan Pak Sanusi Nasihun tentang ini. Kontan saja ia meyambut. Sudah diprofesional saja. Gunakan saja yayasan saya : Yayasan Mandiri Sejahtera. Lalu, rekrut satu orang untuk asisten.
Kini mudah-mudahan secara rutin akan ada laporan keuangannya di blog yayasanmandirisejahtera.blogspot.com. Sehingga ada transparansi dan akuntabilitasnya.
Bismillah, mohon doa restu mudah-mudahan saya bisa membayar hutang masa lalu dengan berbagi. Namun, saya tidak akan meminta anak-anak dhuafa dan yatim itu naek ke panggung dan diusap kepalanya.
Mohon doa...
[komarudin ibnu mikam]
Label:
yayasan mandiiri sejahtera
Mereka, Tempat berbagi...
Senin, 07 September 2009
Terasi Goreng Dalam Meretas Masa Depan
Pesantren Assalafiyah Attaqwa 02, Tanjung Air :Terasi Goreng Dalam Meretas Masa DepanSiang itu di Kampung Tanjung Air, Desa pantai Hurip, Kec. Babelan Bekasi. Terik mentari menikam kepala. Panasnya terasa sampai ke sum-sum tulang. Namun, semuanya tidak dirasakan oleh Tabah, seorang buruh tani dari Penombo, Kec. Muara Gembong, Bekasi. Yang ada di batok kepalanya adalah menyekolahkan anaknya : Halim. Walau uang sepeserpun tidak ada di kantong. “Saya mah terserah Pak Ustad. Yang penting anak saya nyantren….” Katanya kepada Ustad Nurhasan .Ustad Nurhasan gak tega. Meski ia gak tahu harus bagaimana menanggulangi makan dan kebutuhan Halim, ia tetap menerima Halim menjadi salah satu santrinya. Ia cuma mengusap wajah. Ia memang belum tahu akan kemana ia bicara. Namun, dengan bekal keyakinan ia optimis bisa mendidik anak-anak tidak mampu itu dalam bidang ilmu agama. Untunglah sebagai buruh tani, sang ayah masih bisa mengrimkan beras. Upahnya sebagai buruh tani. Itu pun sekarung untuk tiga bahkan sampai empat bulan. Lalu untuk lauknya, biasanya Halim juga dibekali dengan terasi udang bikinan sendiri. Terasi itu yang kemudian digoreng. Pake garam yang banyak. Pake bawang seadanya. Cabai. Jadi se toples., bisa cukup untuk seminggu. Bila waktu luang. Tidak ada jam pengajian. Ia keluar pesantren memancing ikan. Sesorean, biasanya ia bisa dapat 2-3 ekor ikan lele, betik atau sepat. Kalau lagi rejeki ia bisa dapat 4-5 ekor. Dan, itu bisa dijual ke masyarakat. Lumayan untuk sekadar uang jajan. Dua sampai tiga ribu perak.Itulah yang diceritakan ustad Nurhasan ke saya. Halim adalah satu dari 39 anak binaan di sana. Dari 39 itu. 12 orang anak yatim. 27 orang dhuafa.Kalau ngomong jujur, pesantren ini sangat tidak layak untuk dijadikan wadah pembinaan generasi muda. Tempat tidur tidak ada. Hanya, ruang kelas yang diisi sekitar 30-40 orang. Soal alas ya seadanya. Buat kakus, para santri sudah tidak ada alternative. Kecuali ‘helicopter’ di empang belakang. Ih….jorok banget dah!Namun demikian, ini pilihan yang masih jauh lebih baik. Daripada mereka di rumah. Sekolah nggak. Kerja juga gak. Ujung-ujungnya nongkrong gak karuan jadi preman. Bekasi Utara gitu lho….! Siapa yang gak kenal. Ya, tapi semuanya konsekwensi logis. Mereka kan tetap butuh makan untuk hidup. “kalau abang enak sekolah. Bisa cari duit pake otak. Lah kalo saya? Cuman berantem yang saya bisa. Bini dua. Hayo gimana?” kata Engkar, preman muara waktu saya tanya kenapa seh bang jadi jawara.Yah, gitu deh. Ustad Nurhasan cerita seandainya ada donator yang mau berbagi. Cukuplah rp. 5000 perak per satu orang.5000 x 30 hari = 150.000/orangKalau ada 39 orang berarti 39 x 150.000 = 5.850.000/ bulan.Ini baru kebutuhan dasar. Makan. Belum lagi untuk kebutuhan sarana dan prasarana. Seperti kebutuhan MCK. Ini kan butuh dana yang tidak sedikit. Kalau menurut ustad Nurhasan ancar-ancar buat bikin tolet itu kira-kira Rp. 8 juta. Untuk 4 titik jongkok plus kolam.Yah, idealnya seh harus ada perpustakaan dan lab. Praktek.Oh, iya kalau siang mereka sekolah baik MI Mts atau SMK Attaqwa. Di lokasi yang sama. Dengan kondisi sama. Tidak dipungut biaya. Dana BOS liumayan lah buat bayar guru-gurunya.Apapun. Saya menyaksikan sendiri. Bahwa masih ada mereka yang berjuang meretas masa depan. Dengan bekal apa adanya. Terasi goren g pun jadi. Ya, meretas masa depan berbekal terasi goreng.Pahiiiit….!
Komarudin ibnu ಮಿಕಮ೦೮೧೮೭೨೧೦೧೪
Komar.multiply.com
Tentang Yayasan Mandiri Sejahtera
Berawal dari kesadaran bahwa hidup itu adalah berbagi. Sebab "berbagi"-lah sesuatu itu akan ada dan hidup. Lihatlah ketika serbuk sari berbagi kepada putik. Maka munculah tumbu-tumbuhan. Hadirnya manusia juga diawali ketika sperma 'berbagi' dengan sel telur atau ovum.
Lihat juga kata-kata. ketika ia sendiri, ia hanya kata. Namun ketika masing-masing kata itu bersatu dan berbagi maka munculah kalimat. Ia lebih berarti ketika satu sama lain saling berbagi.
Dalam konteks itulah Yayasan Mandiri Sejahtera hadir. Khususnya di wilayah Bekasi Raya. Mencoba memanage 'berbagi' secara lebh profesional. Dengan manajemen modern setiap sedekah-infaq-shodaqoh Anda disalurkan dengan sebaik-baiknya, seamanah dan seprofesional mungkin.
Bila ingin berbagi hub:
Komarudin Ibnu Mikam
Direktur
Alamat:
Taman Kebalen Indah blok J2/59
Babelan - Bekasi
021-92119365, 0818721014
email :layanan@yayasanmandirisejahtera.com
site : yayasanmandirisejahtera.com
Lihat juga kata-kata. ketika ia sendiri, ia hanya kata. Namun ketika masing-masing kata itu bersatu dan berbagi maka munculah kalimat. Ia lebih berarti ketika satu sama lain saling berbagi.
Dalam konteks itulah Yayasan Mandiri Sejahtera hadir. Khususnya di wilayah Bekasi Raya. Mencoba memanage 'berbagi' secara lebh profesional. Dengan manajemen modern setiap sedekah-infaq-shodaqoh Anda disalurkan dengan sebaik-baiknya, seamanah dan seprofesional mungkin.
Bila ingin berbagi hub:
Komarudin Ibnu Mikam
Direktur
Alamat:
Taman Kebalen Indah blok J2/59
Babelan - Bekasi
021-92119365, 0818721014
email :layanan@yayasanmandirisejahtera.com
site : yayasanmandirisejahtera.com
Langganan:
Postingan (Atom)