Lagi bandel-bandelnya, bapak saya menutup mata untuk selama-selamanya. Duh, dunia rasanya buram. Masa depan terlihat suram. Yang ada hanya temaram. Terbayang hal yang kelam. Sekolah yang akan terbenam. Kondisi ekonomi yang tenggelam. Pokoknya satu kata : MADESU alias masa depan suram.
Namun, semua ketakutan itu tidak terbukti. Keluarga kami terus berjalan. Ibu, saya memanggilnya Enya. Jualan nasi uduk. Saya biasanya bangun jam 2. bantuin goreng bakwan dan kue dadar. Saya ingat betul duduk di sebelah k
Habis gitu, masukan isinya. Berupa campuran kelapa dan gula merah. Lalu lipat. Seperti membungkus kado. Lalu letakan terbalik. Jadilah kue dadar.
Setelah kematian Baba, begitulah kehidupan kami. Untunglah rumah kami besar. Sehingga dapat dibelah dua. Sebagian dibuat jadi kontrakan. Lumayan dapat enam pintu. Buat pemasukan bulanan. Ditambah pensiunan Bapak. Jadilah, kami berempat menjalani kehidupan.
Alhamdulillahnya....situasi sosial di kampung cukup "menguntungkan." Di sana masih banyak orang yang berbagi. Pak Jajang, ketua RT kami membiayai adik kami yang bungsu. Dan, yang tidak terlupakan adalah ketika adik-adik saya dipanggil ke panggung santunan anak yatim. Diberikan amplof. Dan, .....diusap kepalanya. Anehnya saya selalu tidak kuat bila melihat momen-momen ini. Bagaimana pun adik saya yang sudah smp, agak gimana gitu...maklumlah sudah abg. udah kenal cewek. Malu dong ah...
tapi
mau dikata apa, disitulah kesempatan ia dapat uang agak lebih banyak dari biasanya.Sekali lagi berbagi menunjukan keajaibannya. Kami menyadari berbagi yang menjadi mekanisme sosial melalui zakat fitrah, sodaqah dan infaq membentuk pribadi yang hendak berbalas budi. setiap momen itu hadir, saya selalu bersumpah dalam hati. Suatu ketika saya akan membalas budi dengan menjadi penyantun anak-anak yatim dan dhuafa. Walau pun sebagian besar bukan dari kocek saya sendiri. tapi, lebih banyak dari teman-teman yang namanya ogah disebut. Alhamdulilah, banyak teman yang bersedia mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Dengan modal kepercayaan kepada saya pribadi. Tanpa menuntut untuk meminta pertanggungjawaban atau apa pun.
Mulai dari 200 ribu sebulan. Saya langsung kirim. Lalu meningkat dan meningkat. Hingga pada titik yang saya nilai saya pribadi tidak dapat menghandle-nya. Maka, saya pun bicara dengan Pak Sanusi Nasihun tentang ini. Kontan saja ia meyambut. Sudah diprofesional saja. Gunakan saja yayasan saya : Yayasan Mandiri Sejahtera. Lalu, rekrut satu orang untuk asisten.
Kini mudah-mudahan secara rutin akan ada laporan keuangannya di blog yayasanmandirisejahtera.blogspot.com. Sehingga ada transparansi dan akuntabilitasnya.
Bismillah, mohon doa restu mudah-mudahan saya bisa membayar hutang masa lalu dengan berbagi. Namun, saya tidak akan meminta anak-anak dhuafa dan yatim itu naek ke panggung dan diusap kepalanya.
Mohon doa...
[komarudin ibnu mikam]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar